“galau twenty four”
Seminggu yang lalu saya berulangtahun untuk yang kedua puluh empat kalinya. Sebuah usia yang cukup untuk dikatakan dewasa. Secara teori iya, tapi pada kenyataannya saya masih jauh dari kata tersebut. Terbukti dari ketidaktahuan saya tentang makna dewasa yang sebenarnya.
What is the meaning of mature? When do we usually called adult person?
Apakah ketika takaran obat kita sudah tidak memakai takaran setengah lagi, saat harus membayar angkot sendiri, bilamana tahu yang namanya pacaran atau waktu tubuh menampakkan masa akil baliq?
Masa akil baliq buat sebagian orang adalah masa transisi dan transformasi dari anak-anak menjadi dewasa. Tanggungjawab mulai bertambah seiring dengan bentuk tubuh yang semakin berubah. Namun apakah manusia yang telah melewati fase ilmiah tersebut bisa dikatakan dewasa. Banyak anak-anak minim pendidikan formal yang hidup di jalanan sudah bisa dikatakan dewasa daripada manusia yang lebih tua seperti saya ini. Ya lebih tepatnya mereka dewasa sebelum waktunya.
Dari sanalah saya mengelompokkan dewasa menjadi dua yaitu dewasa secara fisik dan psikis. Dewasa secara fisik bisa dijabarkan seperti penjelasan akil baliq tadi. Dan secara psikis bisa dililhat dari pola pikir seseorang. Pola pikir ini bisa dipengaruhi oleh banyak hal. Salah satunya adalah pengalaman hidup. Bagi seseorang yang menemui banyak masalah maka tingkat kedewasaannya akan semakin tinggi ketika berhasil lolos dari cobaan tersebut.
Sepertinnya saya memang belum seratus persen dewasa. Tapi saya ingin belajar dewasa dan berusaha mendewasakan diri dengan berpikir seperti manusia dewasa pikirkan. Ini semacam paksaan karena usia saya sudah tak pantas lagi untuk berpikir macam murid TK.
Hal pertama yang ingin saya usahakan yaitu tentang jodoh. Tak terasa sudah empat tahun lebih saya resmi menjomblo meski beberapa tahun terakhir sempat TTM-an dengan beberapa gadis. Kenyataannya sudah banyak teman dan kerabat yang seumuran bahkan lebih muda dari saya yang mendapat predikat “married”. Jujur saya iri tapi apalah daya potongan rusuk kiri alias jodoh belum saya temukan.
Sudah berbagai cara saya lakukan. Mulai kenalan di facebook sampai rajin reuni dengan harapan ada teman lama yang kecantol. Sebenarnya saya masih pengen santai-santai menikmati masa bujang dengan segala hal yang menyenangkan. Tapi sepertinya orang-orang di sekitar mulai resah dengan kesendirian saya. Menurut mereka jangan sampai nikah di atas usia 25. Ini terkait dengan kemampuan reproduksi dan kesanggupan mencari nafkah agar keluarga tercukupi.
Ada contoh kasus. Seorang tetangga yang menikah di usia 35 sekarang ini sedang kecapaian mencari nafkah buat anaknya yang berumur 4 tahun dan 1 tahun. Usia bapak tadi sekarang menginjak kepala 4 yang berarti masa produktifnya sisa 15 tahun lagi. Jika dihitung-hitung masa sekolah anaknya yang pertama sampai lulus kuliah masih 18 tahun lagi belum lagi anaknya yang kedua. Tentunya untuk memenuhi hal tersebut si bapak wajib bekerja lebih lama dengan menunda masa pensiun atau bekerja lebih banyak dari sebelumnya. Wah ternyata untuk urusan jodoh saja menyangkut banyak hal ya.
Belum lagi berpikir tentang karier. Manusia memang tak pernah puas seperti halnya saya yang menginginkan rejeki yang berlimpah. Saya pernah bercita-cita, di usia 30an saya telah mempunyai usaha sendiri dan bisa menikmati masa pensiun dini dengan berbisnis dan menjalankan hobi. Jelas ini bukan hal yang mudah jika melihat kenyataan saya saat ini yang menganggap pekerjaan tak ubahnya seperti permainan. Ya mungkin ini dikarenakan status jomblo yang notabene sedikit tanggungan.Sudah sewajarnya saya berpikir bagaimana karier bisa maksimal dan masa tua nanti bisa tenang dengan kondisi materi berkecukupan.
Hmm… ternyata menjadi manusia dewasa itu susah susah gampang, membayangkannya saja sudah ruwet tapi mau tidak mau harus dijalani mulai dari saat ini. Let’s grow up be better person. It’s the meaning of mature.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar